Sejarah Para Pemimpin Islam Dari Ali Sampai Monarki Muawiyah

Dalam bagian pertama buku ini,  membahas  mengenai peran Imam Ali as di masa-masa penting sejarah kehidupan Nabi saw. Posisi dan kesetiaan Imam pada Nabi saw juga telah dipaparkan secara singkat. Imam Ali as juga mendapat kehormatan dibesarkan dalam lingkungan keluarga Nabi saw.

Berkaitan dengan hal ini, sejumlah hadis telah dikumpulkan oleh Ibnu Abil-Hadid. Diantaranya, sebuah hadis dari Zaid bin Ali bin Husain, dia berkata bahwa pada masa kecil Imam Ali Rasulullah saw biasa mengunyah daging dan kurma sampai lembut lalu menyuapkannya ke mulut Imam Ali dengan mulut beliau. Imam Ali adalah orang pertama yang mengimani Rasul melalui kedekatan hubungan mereka. Beliau as berkata, “Rasulullah sendiri yang mengajariku shalat.”Dalam hal ini, terdapat sejumlah riwayat sebagai bukti dan saksi, dengan demikian, tidak ada celah lagi bagi orang-orang yang jujur untuk meragukannya. Mengenai keislaman Imam Ali as, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw sendiri yang mendakwahkan Islam kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau saat itu sudah dewasa secara mental.Mas’udi berkata, “Beberapa perawi berkata bahwa saat Imam memeluk Islam, beliau belum mencapai usia balig bahkan pada masa itu beliau masih anak-anak.” Rasulullah saw sangat mengetahui betul nilai kesetiaan para sahabatnya, begitu pula pengorbanan diri Imam di semua bidang telah diamatinya. Semua itu menjadi tolok ukur Nabi untuk lebih mengutamakannya dari para sahabat lainnya. Inilah yang mendorong Nabi saw dalam setiap kesempatan memuji keutamaan dan kepribadian Imam as. Isu tentang keutamaan Imam ini dapat kita temui dalam berbagai sumber sejarah dan hadis yang layak dipercaya. Sayangnya pada abad kedua, masa pengumpulan (pembukuan) hadis, para perawi dan para pengumpul hadisnya sebagian besar terpengaruh oleh kecenderungan para pengikut Usman yang enggan mengakui keutamaan Imam as. Tambahan lagi para pendukung Bani Umayah dan Usman, pada masa kekuasaan Bani Umayah, telah banyak membuat hadis keutamaan para khalifah dan para sahabat pendukungnya. Beberapa riwayat keutamaan ini yang secara palsu dinisbahkan pada para khalifah sebenarnya adalah riwayat tentang Imam Ali as. Pengaburan ini menemui jalan buntu menghadapi riwayat-riwayat keutamaan Imam dari para perawi terpercaya dan handal yang mempertahankannya dalam kitab-kitab mereka. Para perawi Kufah, misalnya, mempunyai peran besar dalam menjaga riwayat tentang keutamaan-keutamaan ini.