Merajut Ukhuwah Mengenal Syi’ah

Munculnya beragam pendapat tentang awal merekahnya benih tasyayu’ ini disebabkan ketidaktahuan mereka akan hakekat tasyayu’ sebagai aliran yang mencerminkan Islam dengan segala penampilan dan ideologinya. Bahwa tasyayu’ bukan peristiwa baru yang mampir kedalam pemikiran umat Islam. Atau sebagai ideology import dari salah satu bangsa. Tetapi, tasyayu’ adalah murni aqidah Islam dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Benihnya ditanam oleh Rasulullah saaw, berkembang dari hari ke hari dan disirami oleh Ahlulbaitnya saaw. Rasulullah saaw lah yang menyematkan kata Syi’ah kepada para pengikut Ali. Demikian seperti di laporkan oleh Jalaluddin Suyuthi dalam kitab tafsirnya ad-Dur al-Mantsûr ketika menafsirkan ayat ulâika hum khairul bayyinah dari surat al-Bayyinat.
Para tokoh Ahlulbait as telah sering menjelaskan ajaran-ajaran tasyayu’, menghilangkan semua keraguan, serta memerangi para penyusup yang akan merusak kemurnian tasyayu’, membuka kedok orang-orang yang bersembunyi dibalik nama Ahlulbait as untuk mencapai tujuan lain yaitu menghancurkan Islam. Demikian seperti dilaporkan oleh Musthafa Syak’ah dalam bukunya Islâm bilâ madzâhib (Islam tanpa madzhab).
Dari sinilah terjadi kesalahpahaman dalam sebagian kalangan. Mereka nisbatkan ideology para penyusup tersebut kepada Syi’ah yang mereka anggap mewakili pemikiran, kecenderungan dan ideology Syi’ah. Pada umumnya mereka menyematkan tuduhan persekongkolan dan pembusukan Islam kepada Syi’ah. Sedemikian rupa sehingga mereka berkata bahwa Syi’ah menjadi pelabuhan bagi setiap pemikiran-pemikiran yang merusak, yang bertujuan memberangus Arabisme dan Islam. Keyakinan seperti inilah yang merasuki Ahmad Amin yang kemudian diamini oleh generasi yang datang sesudahnya.
Satu hal yang patut disesalkan adalah bahwa para penulis kiwari menyandarkan tuduhan-tuduhannya kepada pendapat para penyusup dan musuh Syi’ah. Mereka tidak mau bersusah payah melakukan penelitian tentang hakekat keyakinan golongan yang ditulis melalui khazanah yang diwarisankan para tokohnya. Padahal, di era modern ini seluruh perangkat penelitian ilmiah modern telah tersedia bagi siapa saja yang ingin memperoleh kebenaran secara obyektif.
Sesungguhnya kebersihan niat adalah yang menentukan kejujuran seorang penulis. Bila syarat ini hilang, maka tiada harapan untuk munculnya obyektifitas tulisan-tulisannya. Dan, inilah yang menghinggapi para penulis kita ketika menulis tentang Syi’ah. Nah, untuk mengenal lebih jauh tentang Syi’ah dan Tasyayu’ sekaligus membuktikan kebenaran atau kesalahan yang selama ini dialamatkan kepada Syi’ah. saya mengajak Anda untuk membaca buku saya yang baru terbit bertajuk Merajut ukhuwah; memahami Syi’ah. Selamat membaca.