Panorama Pemikiran Islam (Buku kedua): Dari Definisi Agama hingga Konsep Wilayat Al-Faqih

Kecenderungan kepada agama dan spiritualitas merupakan bawaan sejak lahir dan mengakar pada ! trah manusia. Agama merupakan panggilan terhadap setiap pendengaran jiwa. Di mana pun manusia tinggal, di situ pula ada kecenderungan pada agama. Karena itulah, meskipun agama dan kehidupan beragama di belahan barat bumi sempat redup, namun masyarakat, para pemikir, institusi ilmiah dan penelitian di Barat kembali menunjukkan minat mereka kepada agama. Tak kurang, Majalah Time tahun 1980 saat melaporkan kebangkitan kembali minat masyarakat kepada kajian-kajian ! filsafat agama menyebutkan, “Tuhan Datang Lagi.” Karena itu, alih-alih distigma sebagai bentuk mitos atau sesuatu yang bersumber pada problem kejiwaan manusia, agama justru dipandang sebagai fenomena besar dan patut mendapat perhatian secara saksama. Beranjak dari realitas ini dan dengan kesadaran akan adanya desakan dari perkembangan situasi zaman, para pengkaji agama terdorong untuk menemukan teori berikut pendekatan rasional dan logis atas berbagai persoalan keagamaan dan keimanan. Ini berarti cahaya mentari agama memang diharapkan dapat terus menyinari kehidupan umat manusia. Proses di dalamnya, selain pendekatan rasional dan logis, terdapat petunjuk dan keterangan berharga dari wahyu yang juga diangkat ke permukaan. Pada kondisi demikian, jalan yang mesti kita tempuh antara lain ialah pendalaman keyakinan keagamaan dengan menggairahkan minat masyarakat pada kajian rasional (aqli) dan tekstual (naqli). Dalam konteks itu, para pemikir muslim telah menunjukkan antusiasme tinggi dalam merespons kemunculan isu-isu krusial keagamaan, yang secara praktis juga sangat menunjang perkembangan keyakinan keagamaan di Dunia Islam.