EPISTEMOLOGI IBADAH

Ibadah adalah menegaskan bahwa Sang Maha Mutlak itu dekat dengan hamba (Tasybih). Ibadah sangat penting dilakukan dalam rangka membawa semua orientasi, cita-cita, dan harapan hanya tertuju kepada diriNya, sebagai akhir dari semua perjalanan. Hubungan manusia dengan Tuhan sangatlah dinamis, maka ada klasifika kebertingkatan hubungan itu untuk mengukur konsistensi manusia terhadap Tuhannya. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur konsistensi itu yakni berIbadah. Jika demikian, harusnya Ibadah memiliki dua dimensi yang disasar oleh umat manusia, yakni dimensi kesempurnaan dan keselamatan.
Secara personal, Ibadah mengantarkan manusia pada kesempurnaan dirinya. Secara sosial Ibadah membawa manusia sebagai penyelamat bagi kaum-kaumnya. (Teoritis dan praktis) Allah SWT adalah subjek dan objek yang tetap -dalam hubungan manusia denganNya- secara niscaya. Perjalanan subjek menuju ke objek dibentuk dalam sebuah sistem peribadatan (syariat) dalam bentuk perwujudan yang dikehendaki-Nya (fikih Islam) yang dinilai secara Objektif oleh hamba.