All for Joomla All for Webmasters

Menurut Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama, Syiah- Sunni adalah produk sejarah. Sejak berabad-abad yang lalu keduanya telah menjadi pilar peradaban Islam, saling melengkapi dan saling mengisi. Keduanya memiliki banyak persamaan. Ahmad Thayyib, Syaikh al-Azhar, menyebut persamaan Sunni Syiah mencapai 90 %, hanya 10 % saja keduanya berbeda. Yang 10 % itupun pada masalah-masalah yang bisa diupayakan untuk mendekatkan keduanya. Demikian juga jawaban Hasan al-Banna pada Umar Tilmisani yang belakang hari menjadi Mursyid Am ketiga menggantikan Hasan Hudhaibi.

            Di antara persamaan keduanya adalah sama-sama meyakini hadis Nabi sebagai referensi setelah al-Qur`an meskipun berbeda dalam jalur periwayatan. Syiah mengandalkan keluarga Nabi dan Sunni mengandalkan Sahabat Nabi. Mesti berbeda jalur ternyata banyak para rawi Syiah yang muncul dalam transmisi hadis Sunni, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu tidak aneh bila hadis keduanya, menurut Hosen Nasr, memiliki substansi yang sama. Perbedaan terletak pada redaksi matan dan intepretasinya saja. Kajian Tijani menyebutkan bahwa ideologi Syiah memiliki landasan epistemologi dalam tradisi Sunni. Inilah titik temu keduanya yang seharusnya menjadi pijakan semua usaha pendekatan. Seperti dalam masalah Tauhid, misalnya. Keduanya berkeyakinan sama. Inti Tauhid adalah mengesakan Allah. Dan inilah salah satu dasar indikator keimanan seseorang.

            عن أنس ابن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  ثلاث من أصل الإيمان : الكفّ عمن قال لا إله إلا الله ، لا نكفّره بذنب ولا نخرجه عن الإسلام بعمل….

            Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah bersabda: “Ada tiga dasar keimanan: Menahan diri terhadap orang yang berkata lâ ilâha illallah; tidak mengkafirkannya karena dosa, dan tidak mengeluarkannya dari Islam karena perbuatan.

            Menu utama buku ini adalah Kitab Tauhid salah satu bagian dari Ushûl al-Kâfi karya Muhammad Ya’kub al-Kulaini (w. 381 H). Ushûl al-Kâfi adalah satu dari empat kanonik Hadis Syiah yang disusun selama dua puluh tahun. Kitab ini berisikan 16.099 hadis yang ia pilih dari sekitar tiga ratus ribu hadis yang beredar di masanya. Angka ini diambil dari dokumentasi sanad yang disusun oleh al-Thusi dalam kitab rijâl-nya dimana ia menyebut salah satu guru al-Kulaini, Ahmad ibn Uqdah (W. 333 H) yang berkata, “Aku mampu duduk untuk membahas dan mengkaji tiga ratus ribu hadis Syiah secara ilmiah.”

            Dalam menyusun karyanya ini, al-Kulaini tidak menerapkan kriteria yang belakangan hari dikenal dengan istilah al-jarh wa al-ta’dîl. Ukuran yang dipakainya adalah tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan kenyamaan hati untuk menerima bahwa hadis-hadis tersebut berasal dari para Imam Ahlulbait as. Al-Bahbudi menyebutnya kriteria al-ridhâ wa al-taslîm. Secara ilmiah ada dua kriteria penerimaan hadis pada zaman itu. Pertama, perawinya tidak fasik. Baik Sunni maupun Syiah sepakat dalam hal ini. Kedua, Matan hadis jauh dari unsur taqiyah. Persyaratan yang terakhir ini hanya ada pada Syiah.

            Mengapa muncul kriteria kedua? Dalam Sahîh al-Kâfî al-Bahbudi menjawab untuk kita. Tapi sebelum ke situ kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana proses periwayatan hadis Syiah berlangsung. Sejarah mencatat bahwa para penguasa sepeninggal Nabi melarang penulisan hadis. Muncul banyak teori terkait masalah ini. Tetapi dengan menelusuri dokumen sejarah yang dapat diverifikasi dengan metode akademik yang teruji terbukti bahwa Nabi tidak melarang. Yang terjadi justru sebaliknya. Riwayat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash yang sering muncul dalam polemik masalah ini adalah bukti yang mendukung tesis ini. Selain itu, banyak riwayat yang menunjukkan aktifitas tulis menulis yang lazim dilakukan dan/atau diperintahkan Nabi. Al-Qur`an sendiri mengisyaratkan pentingnya kegiatan ini. Bahkan, mengabadikannya pada ayat yang turun di masa-masa awal kenabian. Nûn wa al-qalam wa-mâ yasturûn. Mungkinkah Nabi mengeluarkan perintah yang bertentangan dengan semangat al-Qur`an? Kalau begitu siapa yang melarang?

            Mereka adalah elit Quraisy yang berkuasa. Karena itu Michael A. Cook menyebut penulisan hadis sebagai gerakan oposisi, The Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam. Hadis-hadis yang sudah terlanjur ditulis dilarang beredar, bahkan dibakar. Riwayat Umul Mukminin Aisyah tentang ayahnya yang membakar lima ratus hadis Nabi mendukung tesis ini. Memang Aisyah tidak menyebutkan hadis-hadis apa saja yang dibakar. Tetapi dengan metode abductive dapat dipastikan bahwa hadis-hadis tersebut terkait dengan posisi keluarga Nabi dalam masyarakat Islam. Semasa hidup Nabi seringkali mengingatkan umat Islam akan kedudukan keluarganya yang beliau sebut dengan ‘itratî ahl baitî. Akan tetapi realitas politik berkata lain. Mereka dipinggirkan dari kehidupan publik. Gerak langkahnya tak pernah luput dari pengawasan penguasa. Para pengikutnya yang oleh Nabi disebut dengan Syi’ah, seperti dilaporkan al-Suyuthi saat menafsirkan kata khair al-bariyyah dalam surat al-Bayyinat, tidak saja dihalangi dari samudra ilmu mereka tapi juga dipersekusi. Laporan Zubair bin Bakar yang dibawakan oleh Ibn Abi al-Hadid menjelaskan kepada kita mengapa saat itu orang lebih senang disebut sebagai Kafir atau Zindiq daripada sebagai Syiah. Dalam kondisi seperti ini mereka sebarkan ajarannya dengan label taqiyah. Hanya kepada mereka yang ikhlas dari para pengikutnya ajaran suci Nabi disampaikan.  Melalui merekalah hadis-hadis keluarga Nabi terpelihara dan akhirnya sampai kepada generasi selanjutnya.

            Pada abad kedua hijriah tepatnya di masa Imam al-Baqir suasana politik mulai berubah. Para elit politik disibukkan dengan pertikaian internal. Segala energi yang awalnya dipakai untuk mengawasi kaum Syiah mulai bergeser obyeknya kepada para lawan politik. Meski bukan angin surga kebebasan mulai berhembus kepada Syiah untuk menyebarkan ajaran suci keluarga Nabi. Kepada para pengikutnya yang datang dari segala penjuru Imam al-Baqir menyampaikan hadis-hadis Nabi. Saat itulah awal terbentuknya pondasi periwayatan hadis Syi’ah.

            Sepeninggal Imam al-Baqir (W. 114 H) datang masa Imam al-Shâdiq. Kehidupan sosial-politik tidak lebih baik. Kegaduhan politik melanda seluruh negeri. Selain berhadapan dengan para penentang dari dalam istana, penguasa juga menghadapi pemberontakan dari luar. Pada akhirnya penguasa kalah. Terjadi pergantian rezim. Orde lama (Dinasti Umayah) digantikan oleh orde baru (Dinasti Abbasiyah). Kondisi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kaum Syiah yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka berbondong-bondong untuk menimba ilmu dari Imam al-Shadiq. Masjid Nabawi tempat beliau mengajarkan hadis Nabi didatangi oleh para rawi dari segala penjuru. Masjid Nabi menjadi Universitas pertama di dunia Islam. Dari sana lahir banyak tokoh yang belakang hari menjadi peletak dasar ilmu pengetahuan modern, seperti Jabir ibn al-Hayyân al-Kufî, yang dikenal sebagai bapak kimia. Ajaran-ajaran Imam al-Shâdiq ramai dipelajari. Kompilasi fatwanya selalu dinanti. Jumlahnya mencapai angka empat ratus yang dihimpun oleh empat ratus rawi yang dikenal denganarbaumi`ati mushannaf li arbai`imiati mushannifi.

            Perlu dijelaskan bahwa dalam tradisi Syiah definisi hadis adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada al-ma’shumin. Selain Rasulullah dan Sayidah Fatimah mereka adalah dua belas Imam yang menurut Henry Corbin hanya melalui mereka Islam dapat dipahami dengan benar. There is no complete Islam, no full realization of the Islamic truth, without Imams, for without them the gnosis, the quintessential truth, the haqiqa of the Book, could never be known. Mereka adalah ‘itrah ahlu baitî yang disebut Nabi dalam hadis mutawatir yang sangat terkenal. Oleh karena itu fatwa-fatwa Imam al-Shâdiq juga disebut dengan hadis. “Hadîtsî hadîtsu abî, hadîtsu abî hadîtsu jaddî, hadîtsu jaddî hadîtsu rasûlillah.” Hadisku adalah hadisnya ayahku. Hadis ayahku adalah hadisnya Kakekku. Hadis kakekku adalah hadisnya Rasulullah, kata Imam al-Shâdiq menjawab pertanyaan orang tentang otentisitas hadis yang ia sampaikan. Dari fatwa-fatwa Imam al-Shâdiq tersebutlah al-Kulainî menghimpun adikaryanya, al-Kâfî.

            Seperti saya sebut di atas. Ada dua kriteria yang dipakai oleh al-Kulainî dalam menghimpun hadis. Pertama, rawinya tidak fasik. Dan kedua, matannya jauh dari unsur taqiyah. Kriteria kedua muncul karena sebab kondisi sosial politik pada masa itu di mana para Imam terkadang menjawab pertanyaan para pengikutnya menurut pendapat fikih yang berbeda. Para rawi yang mendengar dari Imam al-Shâdiq pun terkadang menahan diri untuk menyampaikan apa yang mereka dengar secara langsung. Oleh karena itu menjadi tugas fuqaha untuk melihat latar belakang munculnya hadis-hadis yang beredar saat itu. Dan itulah yang dilakukan oleh al-Kulaini dalam menyusun al-Kâfî. Selain al-Kâfi dua kriteria tersebut juga dipakai dalam al-Tahdhîb, al-Istibshâr, Man La Yahdhuruhu al-Faqîh, yang dikenal dengan empat kanonik hadis Syiah.

            Pada awalnya dua kriteria di atas mudah diterapkan. Dengan kejelian interaksi mudah mengenali orang yang fasik. Pendapat-pendapat fikih yang berbeda pun sangat masyhur dan mudah dikenali bahkan oleh orang awam sekalipun. Oleh karena itu mudah untuk dibedakan antara hadis yang disampaikan karena taqiyah dan yang bukan karena taqiyah (al-hadîts al-wâqi’î). Akan tetapi seiring perjalanan waktu muncul kemusykilan baru. Tidak mudah menerapkan dua kriteria tersebut akibat derasnya gelombang pemalsuan sanad. Selain membuat matan palsu rupanya para pemalsu dari kaum zindiq juga membuat sanad palsu. Tidak hanya di dunia Syiah. Fenomena seperti ini juga melanda dunia Sunni. Kisah Abdul Karim Ibn Abi al-Auja’ selain dimuat oleh Sayid al-Murtadha ‘Alamul Huda (W. 436 H) juga disebutkan oleh Abu Ja’far al-Thabari dalam Târîkh-nya, 8/48. Juga Ibn al-Athîr dalam al-Kâmil-nya, 4/8. Al-Dhahabi dalam Mîzân al-I’tidâl, 2/644. Dan Ibn Hajar dalam Lisân al-Mîzan, 4/51 dari riwayat Ibn ‘Adî.

            Pada akhir abad ketujuh muncul tradisi baru dalam dunia Syi’ah. Kesahihan sanad mulai menjadi kriteria penilaian hadis. Dengan tradisi baru ini semua riwayat dalam empat kanonik hadis Syi’ah dibagi menjadi lima: Hadis Sahih, Hadis Hasan, Hadis Muwatsaq, Hadis Qawi, dan Hadis Dha’if. Akibatnya penelitian matan hadis berpindah dari kitab hadis ke kitab fikih. Dari situ kemudian muncul kaidah setiap hadis yang keluar atas dasar taqiyah tidak dapat diamalkan. Para pendukung tren baru ini disebut dengan kaum ushûlîyûn. Harus diakui tren ini dipinjam dari tradisi Sunni. Hal ini menjadi bukti tesis di atas bahwa Sunni dan Syi’ah saling melengkapi. Keduanya telah berhasil membangun mozaik peradaban Islam yang sangat indah. Untuk menjaganya diperlukan usaha saling memahami. Untuk dapat saling memahami harus saling mengenali. Untuk dapat saling mengenali harus saling mengerti.  Untuk itulah buku ini hadir di bumi pertiwi.

            Tokoh utama kaum ushûlîyûn adalah Abu al-Fadhl Ahmad bin Musa bin Thâwus (W. 673 H). Tradisi baru ini kemudian menjadadi ‘tranding topic’ yang diikuti oleh mayoritas ulama kecuali kaum akhbârîyûn. Kelompok terakhir menganggap bahwa semua yang termuat dalam kanonik hadis yang empat pasti sahih bahkan sekalipun penyusunnya menisbahkan kepada sumber yang tidak mutawatir. Karena itu mereka menolak kriteria kaum ushûlîyûn.

            Pada abad kesepuluh Syaikh Zain al-Dîn al-‘Amilî yang dikenal dengan al-Syahîd al-Tsâni (911-966) dengan metode yang dibangun oleh kaum ushûliyûn melakukan penelitian terhadap sanad hadis al-Kâfî yang menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. Kitab al-Kâfî memuat 5072 hadis sahih, 144 hadis hasan, 1118 hadis muwatsaq, 302 hadis qawi, dan 9485 hadis dha’if. Hasil penelitan ini diterima oleh hampir semua Ulama. Oleh karena itu tidak tepat bila ada orang yang menyebut kedudukan al-Kâfî bagi Syi’ah sama seperti kedudukanShahîh al-Bukhârî bagi Sunni. Karena Syi’ah tidak menganggap hadis-hadis al-Kâfî sahih semua. Berbeda dengan Sunni yang menganggap hadis-hadis Bukhari sebagai jaminan mutu. Bahkan muncul adagium tidak ada kitab yang paling benar di seluruh galaksi milky waysetelah al-Qur`an selain Shahîh al-Bukhâri.

            Langkah al-Syahid al-Tsânî dilanjutkan oleh puteranya, Jamâl al-Dîn Abû Manshûr al-Hasan ibn Zain al-Dîn. Bila sang Ayah hanya meneliti sanad al-Kâfî –satu dari empat kanonik hadis Syi’ah, sang Putra meneliti sanad keempat-empatnya yang dihimpun dalam sebuah Kitab Muntaqâ al-Jumân fî al-Ahâdîts al-Shihhah wa-al-Hisân. Dengan segala kekurangan yang ada –tentu saja karena tidak ada yang sempurna selain Allah, karya ini diapresiasi oleh para Ulama besar Syi’ah seperti Mir Damad, al-Majlis, al-Hur al-‘Âmilî, dan Ayatullah Borûjurdi. Tak pelak kitab ini adalah persembahan berharga bagi dunia Syi’ah. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran dunia Syi’ah sangat dinamis. Sementara dunia Sunni pintu ijtihad pernah ditutup dunia Syi’ah terus terbuka. Hasilnya para Ulama Syi’ah selangkah lebih maju dari dunia lain.

            Hingga zaman sekarang upaya seperti di atas tidak pernah berhenti. Dengan mengikuti metode yang dirintis oleh Ibn Thâwûs di abad ketujuh, seorang ulama Syi’ah modern, Syaikh Muhammad al-Bâqir al-Bahbûdî meneliti ulang sanad hadis al-Kâfî dan menghimpun sanad-sanad yang sahih saja dalam karya yang ia beri nama Shahîh al-Kâfî. Tidak hanya al-Kâfi beliau juga menyusun sanad-sanad yang sahih saja dari empat kanonik hadis Syi’ah yang lainnya yang ia beri nama menurut kitab yang ia teliti seperti Shahîh al-Tahdhîb, Shahîh al-Istibshâr, Shahîh Man lâ Yahdhuruhu al-faqîh.

            Demikian selayang pandang panorama hadis Syi’ah. Sedikit pengantar ini saya buat untuk menghilangkan kesalahpahaman kaum Sunni kepada Syi’ah. Poin dari pengantar yang agak sedikit panjang ini bahwa Sunni-Syi’ah adalah dua wajah peradaban Islam yang telah berumur panjang. Keduanya telah saling melengkapi. Sebagai generasi penerus kita harus menjaga warisan para leluhur kita darimana saja mereka berasal. Telah lama khazanah keilmuan kita dipenuhi oleh terjemahan enam kanonik hadis Sunni. Bila diibaratkan mata uang Sunni-Syi’ah adalah dua sisi yang saling melengkapi. Kita sudah akrab dengan satu  sisi peradaban Islam yaitu wajah Sunni, tidak ada salahnya bila kita juga mengenali sisinya yang lain yaitu wajah Syi’ah melalui buku ini. Selamat menikmati.

Leave a Comment