All for Joomla All for Webmasters
« Return to Previous Page

Bid’ah Dalam Kacamata Al-Quran dan Sunah

Bid’ah Dalam Kacamata Al-Quran dan Sunah



Setidaknya ada dua golongan Muslim dalam memandang masalah bid’ah. Kelompok pertama memandang bahwa segala perbuatan atau kebiasaan yang tidak ada di zaman Nabi saw kemudian ada, maka itu bid’ah. Pelakunya masuk neraka. Kelompok kedua, memandang bahwa perbuatan dan kebiasaan baru yang ada di zaman sekarang dan tidak di zaman Nabi saw selama itu mengandung “manfaat” dan “kebaikan” tidak apa apa dikerjakan. Pendek kata, pandangan kelompok pertama sangat ketat terhadap masalah bid’ah (karena setiap bid’ah itu sesat). Pandangan kelompok kedua sangat longgar dan pemisif terhadap bid’ah sehingga meski bertentangan dengan hukum asalnya perbuatan itu boleh dilakukan. Mereka menamakannya bid’ah hasanah (bid’ah yang baik).
Betulkah demikian?betulkah ada pembagian bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah? Betulkan setiap temuan baru―baik berupa perbuatan atau kebiasaan yang tidak ada di zaman Nabi saw―digolongkan sebagai bid’ah? Dan betulkah setiap perbuatan “baik” yang tidak ada di zaman Nabi saw bisa digolongkan sunah atau setidaknya bid’ah hasanah? Di sinilah arti penting dari buku ini bagi pembaca.
Dalam buku ini pembaca akan menemukan bahwa tidak setiap hal yang baru itu digolongkan bid’ah. Misalnya, penggunaan pengeras suara (loud speaker) untuk menyeru shalat. Sebaliknya, pembaca pun akan diajak pada pemahaman bahwa setiap kebiasaan baru―terutama dalam ibadah―apabila berlawanan dengan sunah Nabi saw, maka harus ditolak. Meski kesannya secara sosial tatacara ibadah itu baik. Misalnya, pelaksanaan shalat tahajud berjamaah.
Selamat menyimak !


Categories: , .
Tag: .

Pilih Buku

icon-indonesia
icon-inggris
icon-arab
icon-parsia

  • Lihat Buku

    Lihat Buku

    Silakan login / registrasi untuk melihat buku. Terimakasih.

  • Info Buku

    Info Buku

    Penulis

    Team Al-Balagh

    Penerjemah

    Ali al-Kaff

    Bahasa

    Indonesia

    Penerbit

    Nur Al-Huda

    Halaman

    128