All for Joomla All for Webmasters

Sejarah perhadisan dalam Syiah sangat panjang. Dari satu sudut pandang sejarah, dapat dibagi ke dalam beberapa periode:

Periode Pertama
Bertolak dari upaya yang dilakukan oleh Ahlul Bait a.s. dan para sahabatnya, penulisan hadis dalam sejarah peradaban Syiah, pada masa-masa pelarangan penulisan hadis, tidak pernah mengalami kemandegan, akan tetapi terus berlanjut sampai pada masa kodifikasi dan penyusunank itab-kitab induk hadis Syiah. Penulisan itu lebih banyak merupakan penukilan dan penyalinan dari tulisan-tulisan yang ada dibanding dengan bersandar kepada penukilan lewat lisan.

Pada periode paling awal dari sejarah hadis Syiah, telah muncul penulisan-penulisan hadis seperti: kitab Salman, Kitab Abu Dzar dan lain-lain, yang semuanya sudah tidak ada di tangan kita sekarang, tetapi hanya sejarah saja yang memberikan informasi tentang keberadaan kitab-kitab yang sangat berharga tersebut. Dan sebagiannya lagi seperti: kitab Imam Ali a.s., yang saat ini berada di tangan mulia Imam Zaman ajf., Nahj Al-Balaghah, dan Al-Shahifah Al-Sajjadiyah, saat ini ada bersama kita.

Kitab Imam Ali a.s. merupakan kumpulan riwayat-riwayat yang dibacakan langsung oleh Nabi SAW dan dicatat langsung pula oleh Imam Ali a.s. Berdasarkan riwayat-riwayat yang ada, ukuran kitab ini sekitar 70 zira’ dan di dalamnya berisi hukum-hukum yang dibutuhkan umat sampai hari kiamat, dan hanya sahabat-sahabat khusus para imam Ahlul Bait a.s. saja yang pernah melihat langsung kitab tersebut. Kitab itu merupakan sebuah pusaka besar dalam bidang riwayat dan hadis yang saat ini berada di tangan Imam Zaman ajf.

Mushaf Fathimah adalah kumpulan riwayat dan hadis yang isinya berkaitan dengan masalah-masalah seperti: peristiwa-peristiwa umat, khususnya peristiwa yang terjadi atas keturunan Siti Fathimah a.s. Mushaf Fathimah ini bukanlah distorsi terhadap Al-Quran, bukan pula versi lain dari Al-Quran, tetapi ia adalah kitab lain dengan isi yang tersebut tadi. Adapun Al-Quran sudah utuh dan tidak mengalami distrosi, pengurangan ataupun menambahan.

Dengan bersandar pada riwayat-riwayat sejarah, paska wafat Nabi SAW, Imam Ali a.s.atas perintah Nabi SAW mulai menyusun ayat-ayat dan surah-surah Al-Quran berdasarkan kronologi turunnya (asbab al-nuzul) serta mencatat tafsir dan tawil setiap ayat. Dengan usaha ini, terbentuklah mushaf Imam Ali a.s. Kitab ini dianggap sebagai salah satu sumber Syiah paling tua dalam bidang riwayat, karena ia mengandung riwayat-riwayat yang berisi tentang tafsir.

Adapun Nahj Al-Balaghah, yang berarti metode berbicara, secara ideal adalah nama dari kumpulan pidato, khutbah, surat dan kata-kata hikmah Imam Ali a.s. yang dikoleksi dan dibukukan oleh Sayyid Radhi (w. 406 H). Sayyid Radhi sendiri mengakui bahwa Nahj Al-Balaghah yang ada di tangan kita saat ini merupakan hasil seleksi dari sepertiga ucapan Imam Ali a.s. Nahj Al-Balaghah berisi 241 pidato, 79 surat dan 480 hikmah. Dengan muatan yang luar biasa dan keindahan susunannya, Nahj Al-Balaghah diklaim sebagai “kata-katanya lebih rendah dari kalam Tuhan dan lebih tinggi dari kalam manusia”.

Sementara Shahifah Sajjadiyah merupakan kumpulan doa-doa Imam Ali Zainal Abidin a.s. Doa itu diucapkan oleh beliau semasa hidupnya dan dalam berbagai peristiwa. Meskipun sanad kitab ini terputus, namun ketinggian ucapan Imam dan muatannya yang menggambarkan pengetahuan irfan dan pengetahuan Al-Quran menegaskan keberasalannya dari manusia suci (Imam Ali Zainal Abidin a.s.). Shahifah Sajjadiyah sekarang ini memiliki 54 naskah doa.

Periode Kedua
Periode kedua perjalanan sejarah hadis Syiah adalah periode yang disebut dengan “Periode Ushul Arba’umiah (Prinsip-prinsip 400)”. Maksud dari Ushul Arba’umiah adalah sebuah kumpulan hadis dan riwayat dari sejak Imam Ali a.s. sampai Imam Hasan Al-Askari a.s., khususnya hadis dan riwayat yang ada pada masa Shadiqain (Imam Al-Baqir a.s. dan Imam Al-Shadiq a.s.).

Ushul Arba’umiah pada umumnya tidak memuat ijtihad (pendapat ulama penyusun) dan pengungkapan pendapat pribadi seorang perawi, akan tetapi hanya langsung menukil ucapan para imam Ahlul Bait a.s. Dan hal inilah yang membedakannya dengan kitab. Atas dasar ini, Ushul Arba’umiah merupakan tulisan-tulisan dimana pada bagian-bagian yang terdapat riwayat-riwayat para imam Ahlul Bait a.s., tidak ditemukan campur tangan atau intervensi, juga riwayatnya tidak disusun dan didisiplinkan secara per-bab.

Para penyusun Al-Kutub Al-Arba’ah (empat kitab induk hadis) dalam mewujudkan kitab-kitab Jawami’ Awwaliyah (kitab-kitab induk hadis perdana) menggunakan riwayat-riwayat yang ada pada Ushul Arba’umiah. Ini menunjukkah penting dan tingginya posisi Ushul Arba’umiah.

Kendatipun Ushul Arba’umiah ada sampai pada masa Syaikh Thusi (w. 460 H), namun yang sampai pada Allamah Al-Majlisi (w. 1111 H), hanya sekitar 16 ushul (prinsip). Kodifikasi Jawami’ Riwai (kitab-kitab induk riwayat) dan pembakaran atas perpustakaan Syaikh Thusi merupakan faktor-faktor yang diprediksi sebagai penyebab hilangnya Ushul Arba’umiah.

Periode Ketiga
Yaitu periode kodifikasi. Pada periode ini, terdapat empat kitab hadis, yaitu:
a. Al-Kafi, karya Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (w. 329 H).
b. Man La Yahdhuruhu Al-Faqih, karya Muhammad bin Ali bin Babuyah Syaikh Shaduq, (w. 381 H).
c. Tahzib Al-Ahkam, karya Syaikh Al-Thaifah Muhammad bin Hasan Al-Thusi (w. 460 H).
d. Al-Istibshar fi ma I’khtalafa min Al-Akhbar, karya Syaikh Al-Thaifah Muhammad bin Hasan Al-Thusi (w. 460 H).

Perlu diketahui bahwa Madinah Al-‘Ilm, yang merupakan salah satu karya lain Syaikh Shaduq, juga diklasifikasikan sebagai kitab induk hadis Syiah yang kelima, kendatipun saat ini tidak ada wujudnya.

Tsiqatul Islam Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini lahir sekitar tahun 255 H di sebuah desa bernama Kulain yang terletak di kota Rey. Dengan keilmuan dan posisi spiritualnya, seluruh ulama Syiah menyanjungnya. Tulisan-tulisan beliau serta komentar-komentarnya di sela-sela riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kafi menunjukkan bahwa selain dalam bidang hadis, beliau juga seorang yang handal dalam ilmu kalam (teologi), fiqih, tafsir, dan sejarah.

Al-Kafi merupakan kitab induk hadis Syiah paling awal dan sangat penting yang mencakup sekitar 16199 riwayat dan disusun ke dalam tiga bagian: ushul (prinsip-prinsip agama) dua jilid, furu’ (cabang-cabang agama) enam jilid, dan Raudhah satu jilid. Al-Kulaini menyusun kitab Al-Kafi selama 20 tahun yang dimotivasi oleh keinginan untuk meluruskan agama di tengah masyarakat dan mencegah dari perpecahan. Nilai dan keistimewaan khusus Al-Kafi adalah komprehensif  dan sistematis.

Kendati ada sebagian kalangan seperti: Mulla Khalil Qazwini, meragukan penisbahan Raudhah kepada Al-Kafi, namun umumnya para ahli hadis Syiah menyangkal keraguan tersebut dengan alasan: adanya kesesuaian riwayat-riwayat Raudhah dengan sanad-sanad seluruh riwayat-riwayat Al-Kafi dan adanya jarak masa antara Ibnu Idris dengan tingkatan kedelapan atau kesembilan para perawi, selain itu Najasyi dan Syaikh Thusi sudah ada sebelum Ibnu Idris, dan mereka mengakui bahwa Raudhah merupakan bagian dari Al-Kafi.

Syaikh Shaduq Abu Ja’far Muhammad bin Ali Babuyah Al-Qumi, atau yang dikenal juga dengan nama Syeikh Shaduq, merupakan salah seorang ulama dan ahli hadis tersohor Syiah, dimana berkat doa Imam Zaman afj. ia lahir di tengah-tengah sebuah keluarga yang berpendidikan. Selama kehidupan ilmiahnya, Syaikh Shaduq sangat dihormati oleh penguasa, di antaranya oleh Al (keluarga) Buweih. Ia memiliki jumlah karya sebanyak 250 tulisan, di antaranya kitab Man La Yahdhuruh Al-Faqih. Syaikh Shaduq wafat pada tahun 381 H dan dimakamkan di kota Rey.

Man La Yahdhuruh Al-Faqih merupakan kitab induk hadis kedua Syiah yang, dari sisi kekunoan dan validitas, berada setelah Al-Kafi. Kitab ini memuat 5998 riwayat dan disusun guna mempelajari fikih secara otodidak (tanpa pembimbing) dan juga disusun dalam rangka memenuhi permintaan salah seorang sahabat dekat Syaikh Shaduq serta mencontoh kitab Man La Yahdhuruh Al-Thabib, karya Muhammad bin Zakaria Al-Razi.

Di antara kekhususan kitab Man La Yahdhuruh Al-Faqih adalah fikusnya hanya pada riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan fikih, tidak mencantumkan sanad-sanad riwayat kecuali perawi terakhir, dan sejumlah riwayat hanya menyebutkan nama imam maksum a.s., dan menyebutkan pandangan-pandangan fikih di sela-sela penukilan riwayat.

Abu Ja’far Muhammad bin Hasan Thusi, yang lebih dikenal dengan nama Syaikh Al-Thaifah atau Syaikh Thusi, lahir pada tahun 385 H di Thus, Khurasan. Setelah mengenyam dan menjalani pendidikan serta bimbingan dari beberapa guru besar seperti: Syaikh Mufid, beliau mencapai maqam dan kedudukan yang tinggi dan, setelah peristiwa serangan sekelompok fanatis ke rumah beliau di Mahallah Karakh, Baghdad, beliau berangkat menuju kota Najaf dan di sana beliau mendirikan Hauzah Ilmiyah Najaf.

Karya-karya ilmiah Syaikh Thusi dalam berbagai topik keagamaan dijadikan sebagai dasar-dasar serta pondasi ajaran Syiah dan merupakan bukti akan keluasan ilmu dan perhatian besar beliau.

Tahzib Al-Ahkam dan Al-Istibshar fi ma Ikhtalafa min Al-Akhbar merupakan dua kitab induk hadis dari Syaikh Thusi yang dikenal sebagai kitab riwayat yang berada pada urutan ketiga dan keempat dari kitab induk hadis Syiah dengan alasan: riwayat kitab ini banyak berrujuk Ushul Arba’umiah, juga muatannya sangat akurat. Secara istilah, kedua kitab ini disebut sebagai Tahzibain.

Pada dasarnya, Tahzib Al-Ahkam merupakan komentar dan keterangan riwayat atas kitab Al-Muqni’ah karya Syaikh Mufid, mirip dengan kitab hadis Wasa’il Al-Syi’ah juga merupakan penjelasan riwayat atas buku fikih Syara’i’ Al-Islam, karya Muhaqqiq Al-Hilli. Tahdzib Al-Ahkam mencakup 13988 riwayat, dicetak dan dipublikasikan dalam 10 jilid. Syaikh Thusi menyusun kitab ini dalam rangka memberikan jawaban atas para penentang yang menganggap riwayat-riwayat Syiah itu banyak yang paradoks.

Refleksi lebih sempurna mengenai riwayat-riwayat terkait furu’ (cabang-cabang agama), refleksi riwayat-riwayat yang disepakati dan yang tidak disepakati, adanya penjelasan, tafsir dan takwil riwayat-riwayat merupakan ciri khas dari kitab Tahzib al Ahkam.

Selanjutnya, Al-Istibshar fi ma Ikhtalaf min Al-Akhbar merupakan karya kedua kitab hadis Syaikh Thusi. Ia adalah salah satu kitab keempat dari al-kutub al-arba’ah (empat kitab induk hadis) yang disusun setelah kitab Tahzib Al-Ahkam dalam rangka menertibkan serta menyempurnakan riwayat-riwayat yang dianggap bertentangan.  Kitab ini memuat 5511 hadis, dicetak dan dipublikasikan dalam 4 jilid.

Secara umum, riwayat-riwayat dalam kitab dua kitab terakhir ini tidak disebutkan sanad-sanadnya atau perawinya kecuali perawi yang terakhir, dan di akhir kitab ini terdapat sebuah pasal yang dijuduli dengan nama Masyaikh (guru-guru perawi) dan di dalamnya disebutkan metode penulis dalam mencatat para perawi.

Dalam sejarah perhadisan Syiah, terdapat dua kelompok utama: Akhbariyyah dan Ushuliyyah. Antara kelompok Akhbariyah dan kelompok Ushuliyah terdapat perbedaan pandangan dalam menentukan kesahihan riwayat-riwayat yang ada dalam Al-Kutub Al-Arba’ah (empat kitab induk hadis).

Akhbariyah meyakini bahwa, dengan memperhatikan isi Al-Kutub Al-Arba’ah yang banyak menyandarkan dan mengambil riwayat dari kitab Ushul Arba’umiah, serta adanya pembelaan para penyusun kitab-kitab tersebut seperti yang termaktub dalam mukadimah setiap kitab atas kesahihan riwayat-riwayatnya, maka tidak mungkin seseorang bisa meragukan kesahihan dan kebenaran riwayat-riwayat tersebut.

Akan halnya Ushuliyah, selain menafikan argumentasi yang dikemukakan oleh Akhbariyah, memiliki pandangan yang jauh berbeda. Kaum Ushuliyah berkeyakinan bahwa, dengan adanya sejumlah riwayat lemah dalam kitab-kitab ini, maka klaim yang menyatakan atas kesahihan seluruh riwayat dalam Al-Kutub Al-Arba’ah itu pun terbantahkan dan ternafikan. Dengan alasan inilah, maka sebuah kemestian untuk melakukan analisis terhadap sanad dan matan dari setiap riwayat-riwayat empat kitab induk hadis tersebut secara terpisah. [RED]

Sumber: Studisyiah

Menurut Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama, Syiah- Sunni adalah produk sejarah. Sejak berabad-abad yang lalu keduanya telah menjadi pilar peradaban Islam, saling melengkapi dan saling mengisi. Keduanya memiliki banyak persamaan. Ahmad Thayyib, Syaikh al-Azhar, menyebut persamaan Sunni Syiah mencapai 90 %, hanya 10 % saja keduanya berbeda. Yang 10 % itupun pada masalah-masalah yang bisa diupayakan untuk mendekatkan keduanya. Demikian juga jawaban Hasan al-Banna pada Umar Tilmisani yang belakang hari menjadi Mursyid Am ketiga menggantikan Hasan Hudhaibi.

            Di antara persamaan keduanya adalah sama-sama meyakini hadis Nabi sebagai referensi setelah al-Qur`an meskipun berbeda dalam jalur periwayatan. Syiah mengandalkan keluarga Nabi dan Sunni mengandalkan Sahabat Nabi. Mesti berbeda jalur ternyata banyak para rawi Syiah yang muncul dalam transmisi hadis Sunni, demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu tidak aneh bila hadis keduanya, menurut Hosen Nasr, memiliki substansi yang sama. Perbedaan terletak pada redaksi matan dan intepretasinya saja. Kajian Tijani menyebutkan bahwa ideologi Syiah memiliki landasan epistemologi dalam tradisi Sunni. Inilah titik temu keduanya yang seharusnya menjadi pijakan semua usaha pendekatan. Seperti dalam masalah Tauhid, misalnya. Keduanya berkeyakinan sama. Inti Tauhid adalah mengesakan Allah. Dan inilah salah satu dasar indikator keimanan seseorang.

            عن أنس ابن مالك قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  ثلاث من أصل الإيمان : الكفّ عمن قال لا إله إلا الله ، لا نكفّره بذنب ولا نخرجه عن الإسلام بعمل….

            Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah bersabda: “Ada tiga dasar keimanan: Menahan diri terhadap orang yang berkata lâ ilâha illallah; tidak mengkafirkannya karena dosa, dan tidak mengeluarkannya dari Islam karena perbuatan.

            Menu utama buku ini adalah Kitab Tauhid salah satu bagian dari Ushûl al-Kâfi karya Muhammad Ya’kub al-Kulaini (w. 381 H). Ushûl al-Kâfi adalah satu dari empat kanonik Hadis Syiah yang disusun selama dua puluh tahun. Kitab ini berisikan 16.099 hadis yang ia pilih dari sekitar tiga ratus ribu hadis yang beredar di masanya. Angka ini diambil dari dokumentasi sanad yang disusun oleh al-Thusi dalam kitab rijâl-nya dimana ia menyebut salah satu guru al-Kulaini, Ahmad ibn Uqdah (W. 333 H) yang berkata, “Aku mampu duduk untuk membahas dan mengkaji tiga ratus ribu hadis Syiah secara ilmiah.”

            Dalam menyusun karyanya ini, al-Kulaini tidak menerapkan kriteria yang belakangan hari dikenal dengan istilah al-jarh wa al-ta’dîl. Ukuran yang dipakainya adalah tidak bertentangan dengan al-Qur`an dan kenyamaan hati untuk menerima bahwa hadis-hadis tersebut berasal dari para Imam Ahlulbait as. Al-Bahbudi menyebutnya kriteria al-ridhâ wa al-taslîm. Secara ilmiah ada dua kriteria penerimaan hadis pada zaman itu. Pertama, perawinya tidak fasik. Baik Sunni maupun Syiah sepakat dalam hal ini. Kedua, Matan hadis jauh dari unsur taqiyah. Persyaratan yang terakhir ini hanya ada pada Syiah.

            Mengapa muncul kriteria kedua? Dalam Sahîh al-Kâfî al-Bahbudi menjawab untuk kita. Tapi sebelum ke situ kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana proses periwayatan hadis Syiah berlangsung. Sejarah mencatat bahwa para penguasa sepeninggal Nabi melarang penulisan hadis. Muncul banyak teori terkait masalah ini. Tetapi dengan menelusuri dokumen sejarah yang dapat diverifikasi dengan metode akademik yang teruji terbukti bahwa Nabi tidak melarang. Yang terjadi justru sebaliknya. Riwayat Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash yang sering muncul dalam polemik masalah ini adalah bukti yang mendukung tesis ini. Selain itu, banyak riwayat yang menunjukkan aktifitas tulis menulis yang lazim dilakukan dan/atau diperintahkan Nabi. Al-Qur`an sendiri mengisyaratkan pentingnya kegiatan ini. Bahkan, mengabadikannya pada ayat yang turun di masa-masa awal kenabian. Nûn wa al-qalam wa-mâ yasturûn. Mungkinkah Nabi mengeluarkan perintah yang bertentangan dengan semangat al-Qur`an? Kalau begitu siapa yang melarang?

            Mereka adalah elit Quraisy yang berkuasa. Karena itu Michael A. Cook menyebut penulisan hadis sebagai gerakan oposisi, The Opponents of the Writing of Tradition in Early Islam. Hadis-hadis yang sudah terlanjur ditulis dilarang beredar, bahkan dibakar. Riwayat Umul Mukminin Aisyah tentang ayahnya yang membakar lima ratus hadis Nabi mendukung tesis ini. Memang Aisyah tidak menyebutkan hadis-hadis apa saja yang dibakar. Tetapi dengan metode abductive dapat dipastikan bahwa hadis-hadis tersebut terkait dengan posisi keluarga Nabi dalam masyarakat Islam. Semasa hidup Nabi seringkali mengingatkan umat Islam akan kedudukan keluarganya yang beliau sebut dengan ‘itratî ahl baitî. Akan tetapi realitas politik berkata lain. Mereka dipinggirkan dari kehidupan publik. Gerak langkahnya tak pernah luput dari pengawasan penguasa. Para pengikutnya yang oleh Nabi disebut dengan Syi’ah, seperti dilaporkan al-Suyuthi saat menafsirkan kata khair al-bariyyah dalam surat al-Bayyinat, tidak saja dihalangi dari samudra ilmu mereka tapi juga dipersekusi. Laporan Zubair bin Bakar yang dibawakan oleh Ibn Abi al-Hadid menjelaskan kepada kita mengapa saat itu orang lebih senang disebut sebagai Kafir atau Zindiq daripada sebagai Syiah. Dalam kondisi seperti ini mereka sebarkan ajarannya dengan label taqiyah. Hanya kepada mereka yang ikhlas dari para pengikutnya ajaran suci Nabi disampaikan.  Melalui merekalah hadis-hadis keluarga Nabi terpelihara dan akhirnya sampai kepada generasi selanjutnya.

            Pada abad kedua hijriah tepatnya di masa Imam al-Baqir suasana politik mulai berubah. Para elit politik disibukkan dengan pertikaian internal. Segala energi yang awalnya dipakai untuk mengawasi kaum Syiah mulai bergeser obyeknya kepada para lawan politik. Meski bukan angin surga kebebasan mulai berhembus kepada Syiah untuk menyebarkan ajaran suci keluarga Nabi. Kepada para pengikutnya yang datang dari segala penjuru Imam al-Baqir menyampaikan hadis-hadis Nabi. Saat itulah awal terbentuknya pondasi periwayatan hadis Syi’ah.

            Sepeninggal Imam al-Baqir (W. 114 H) datang masa Imam al-Shâdiq. Kehidupan sosial-politik tidak lebih baik. Kegaduhan politik melanda seluruh negeri. Selain berhadapan dengan para penentang dari dalam istana, penguasa juga menghadapi pemberontakan dari luar. Pada akhirnya penguasa kalah. Terjadi pergantian rezim. Orde lama (Dinasti Umayah) digantikan oleh orde baru (Dinasti Abbasiyah). Kondisi tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh kaum Syiah yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka berbondong-bondong untuk menimba ilmu dari Imam al-Shadiq. Masjid Nabawi tempat beliau mengajarkan hadis Nabi didatangi oleh para rawi dari segala penjuru. Masjid Nabi menjadi Universitas pertama di dunia Islam. Dari sana lahir banyak tokoh yang belakang hari menjadi peletak dasar ilmu pengetahuan modern, seperti Jabir ibn al-Hayyân al-Kufî, yang dikenal sebagai bapak kimia. Ajaran-ajaran Imam al-Shâdiq ramai dipelajari. Kompilasi fatwanya selalu dinanti. Jumlahnya mencapai angka empat ratus yang dihimpun oleh empat ratus rawi yang dikenal denganarbaumi`ati mushannaf li arbai`imiati mushannifi.

            Perlu dijelaskan bahwa dalam tradisi Syiah definisi hadis adalah segala sesuatu yang dinisbahkan kepada al-ma’shumin. Selain Rasulullah dan Sayidah Fatimah mereka adalah dua belas Imam yang menurut Henry Corbin hanya melalui mereka Islam dapat dipahami dengan benar. There is no complete Islam, no full realization of the Islamic truth, without Imams, for without them the gnosis, the quintessential truth, the haqiqa of the Book, could never be known. Mereka adalah ‘itrah ahlu baitî yang disebut Nabi dalam hadis mutawatir yang sangat terkenal. Oleh karena itu fatwa-fatwa Imam al-Shâdiq juga disebut dengan hadis. “Hadîtsî hadîtsu abî, hadîtsu abî hadîtsu jaddî, hadîtsu jaddî hadîtsu rasûlillah.” Hadisku adalah hadisnya ayahku. Hadis ayahku adalah hadisnya Kakekku. Hadis kakekku adalah hadisnya Rasulullah, kata Imam al-Shâdiq menjawab pertanyaan orang tentang otentisitas hadis yang ia sampaikan. Dari fatwa-fatwa Imam al-Shâdiq tersebutlah al-Kulainî menghimpun adikaryanya, al-Kâfî.

            Seperti saya sebut di atas. Ada dua kriteria yang dipakai oleh al-Kulainî dalam menghimpun hadis. Pertama, rawinya tidak fasik. Dan kedua, matannya jauh dari unsur taqiyah. Kriteria kedua muncul karena sebab kondisi sosial politik pada masa itu di mana para Imam terkadang menjawab pertanyaan para pengikutnya menurut pendapat fikih yang berbeda. Para rawi yang mendengar dari Imam al-Shâdiq pun terkadang menahan diri untuk menyampaikan apa yang mereka dengar secara langsung. Oleh karena itu menjadi tugas fuqaha untuk melihat latar belakang munculnya hadis-hadis yang beredar saat itu. Dan itulah yang dilakukan oleh al-Kulaini dalam menyusun al-Kâfî. Selain al-Kâfi dua kriteria tersebut juga dipakai dalam al-Tahdhîb, al-Istibshâr, Man La Yahdhuruhu al-Faqîh, yang dikenal dengan empat kanonik hadis Syiah.

            Pada awalnya dua kriteria di atas mudah diterapkan. Dengan kejelian interaksi mudah mengenali orang yang fasik. Pendapat-pendapat fikih yang berbeda pun sangat masyhur dan mudah dikenali bahkan oleh orang awam sekalipun. Oleh karena itu mudah untuk dibedakan antara hadis yang disampaikan karena taqiyah dan yang bukan karena taqiyah (al-hadîts al-wâqi’î). Akan tetapi seiring perjalanan waktu muncul kemusykilan baru. Tidak mudah menerapkan dua kriteria tersebut akibat derasnya gelombang pemalsuan sanad. Selain membuat matan palsu rupanya para pemalsu dari kaum zindiq juga membuat sanad palsu. Tidak hanya di dunia Syiah. Fenomena seperti ini juga melanda dunia Sunni. Kisah Abdul Karim Ibn Abi al-Auja’ selain dimuat oleh Sayid al-Murtadha ‘Alamul Huda (W. 436 H) juga disebutkan oleh Abu Ja’far al-Thabari dalam Târîkh-nya, 8/48. Juga Ibn al-Athîr dalam al-Kâmil-nya, 4/8. Al-Dhahabi dalam Mîzân al-I’tidâl, 2/644. Dan Ibn Hajar dalam Lisân al-Mîzan, 4/51 dari riwayat Ibn ‘Adî.

            Pada akhir abad ketujuh muncul tradisi baru dalam dunia Syi’ah. Kesahihan sanad mulai menjadi kriteria penilaian hadis. Dengan tradisi baru ini semua riwayat dalam empat kanonik hadis Syi’ah dibagi menjadi lima: Hadis Sahih, Hadis Hasan, Hadis Muwatsaq, Hadis Qawi, dan Hadis Dha’if. Akibatnya penelitian matan hadis berpindah dari kitab hadis ke kitab fikih. Dari situ kemudian muncul kaidah setiap hadis yang keluar atas dasar taqiyah tidak dapat diamalkan. Para pendukung tren baru ini disebut dengan kaum ushûlîyûn. Harus diakui tren ini dipinjam dari tradisi Sunni. Hal ini menjadi bukti tesis di atas bahwa Sunni dan Syi’ah saling melengkapi. Keduanya telah berhasil membangun mozaik peradaban Islam yang sangat indah. Untuk menjaganya diperlukan usaha saling memahami. Untuk dapat saling memahami harus saling mengenali. Untuk dapat saling mengenali harus saling mengerti.  Untuk itulah buku ini hadir di bumi pertiwi.

            Tokoh utama kaum ushûlîyûn adalah Abu al-Fadhl Ahmad bin Musa bin Thâwus (W. 673 H). Tradisi baru ini kemudian menjadadi ‘tranding topic’ yang diikuti oleh mayoritas ulama kecuali kaum akhbârîyûn. Kelompok terakhir menganggap bahwa semua yang termuat dalam kanonik hadis yang empat pasti sahih bahkan sekalipun penyusunnya menisbahkan kepada sumber yang tidak mutawatir. Karena itu mereka menolak kriteria kaum ushûlîyûn.

            Pada abad kesepuluh Syaikh Zain al-Dîn al-‘Amilî yang dikenal dengan al-Syahîd al-Tsâni (911-966) dengan metode yang dibangun oleh kaum ushûliyûn melakukan penelitian terhadap sanad hadis al-Kâfî yang menghasilkan kesimpulan sebagai berikut. Kitab al-Kâfî memuat 5072 hadis sahih, 144 hadis hasan, 1118 hadis muwatsaq, 302 hadis qawi, dan 9485 hadis dha’if. Hasil penelitan ini diterima oleh hampir semua Ulama. Oleh karena itu tidak tepat bila ada orang yang menyebut kedudukan al-Kâfî bagi Syi’ah sama seperti kedudukanShahîh al-Bukhârî bagi Sunni. Karena Syi’ah tidak menganggap hadis-hadis al-Kâfî sahih semua. Berbeda dengan Sunni yang menganggap hadis-hadis Bukhari sebagai jaminan mutu. Bahkan muncul adagium tidak ada kitab yang paling benar di seluruh galaksi milky waysetelah al-Qur`an selain Shahîh al-Bukhâri.

            Langkah al-Syahid al-Tsânî dilanjutkan oleh puteranya, Jamâl al-Dîn Abû Manshûr al-Hasan ibn Zain al-Dîn. Bila sang Ayah hanya meneliti sanad al-Kâfî –satu dari empat kanonik hadis Syi’ah, sang Putra meneliti sanad keempat-empatnya yang dihimpun dalam sebuah Kitab Muntaqâ al-Jumân fî al-Ahâdîts al-Shihhah wa-al-Hisân. Dengan segala kekurangan yang ada –tentu saja karena tidak ada yang sempurna selain Allah, karya ini diapresiasi oleh para Ulama besar Syi’ah seperti Mir Damad, al-Majlis, al-Hur al-‘Âmilî, dan Ayatullah Borûjurdi. Tak pelak kitab ini adalah persembahan berharga bagi dunia Syi’ah. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran dunia Syi’ah sangat dinamis. Sementara dunia Sunni pintu ijtihad pernah ditutup dunia Syi’ah terus terbuka. Hasilnya para Ulama Syi’ah selangkah lebih maju dari dunia lain.

            Hingga zaman sekarang upaya seperti di atas tidak pernah berhenti. Dengan mengikuti metode yang dirintis oleh Ibn Thâwûs di abad ketujuh, seorang ulama Syi’ah modern, Syaikh Muhammad al-Bâqir al-Bahbûdî meneliti ulang sanad hadis al-Kâfî dan menghimpun sanad-sanad yang sahih saja dalam karya yang ia beri nama Shahîh al-Kâfî. Tidak hanya al-Kâfi beliau juga menyusun sanad-sanad yang sahih saja dari empat kanonik hadis Syi’ah yang lainnya yang ia beri nama menurut kitab yang ia teliti seperti Shahîh al-Tahdhîb, Shahîh al-Istibshâr, Shahîh Man lâ Yahdhuruhu al-faqîh.

            Demikian selayang pandang panorama hadis Syi’ah. Sedikit pengantar ini saya buat untuk menghilangkan kesalahpahaman kaum Sunni kepada Syi’ah. Poin dari pengantar yang agak sedikit panjang ini bahwa Sunni-Syi’ah adalah dua wajah peradaban Islam yang telah berumur panjang. Keduanya telah saling melengkapi. Sebagai generasi penerus kita harus menjaga warisan para leluhur kita darimana saja mereka berasal. Telah lama khazanah keilmuan kita dipenuhi oleh terjemahan enam kanonik hadis Sunni. Bila diibaratkan mata uang Sunni-Syi’ah adalah dua sisi yang saling melengkapi. Kita sudah akrab dengan satu  sisi peradaban Islam yaitu wajah Sunni, tidak ada salahnya bila kita juga mengenali sisinya yang lain yaitu wajah Syi’ah melalui buku ini. Selamat menikmati.

Alkisah, ada dua orang bersaudara dari kalangan Bani Israil. Yang satu sering berbuat dosa, sementara yang lain sebaliknya: sangat tekun beribadah. Yang terakhir disebut ini rupanya tak henti-hentinya menyaksikan saudaranya itu melakukan dosa hingga mulutnya tak betah untuk tidak menegur.

“Berhentilah!” sergahnya.

Teguran seolah hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar lagi lewat telinga kiri. Perbuatan dosa berlanjut dan sekali lagi tak luput dari mata saudaranya yang rajin beribadah. “Berhentilah!” Sergahnya kembali.

Si pendosa lantas berucap, “Tinggalkan aku bersama Tuhanku. Apakah kau diutus untuk mengawasiku?”

Saudara yang ahli ibadah pun menimpali, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu. Allah tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Cerita ini tertuang dalam sebuah Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ahmad. Di ujung, Hadits tersebut melanjutkan, tatkala keduanya meninggal dunia, keduanya pun dikumpulkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala.

Kepada yang sungguh-sungguh beribadah, Allah mengatakan, “Apakah kau telah mengetahui tentang-Ku? Apakah kau sudah memiliki kemampuan atas apa yang ada dalam genggaman-Ku?”

Drama keduanya pun berlanjut dengan akhir yang mengejutkan.

“Pergi dan masuklah ke surga dengan rahmat-Ku,” kata Allah kepada si pendosa. Sementara kepada ahli ibadah, Allah mengatakan, “(Wahai malaikat) giringlah ia menuju neraka.”

Kisah di atas menyiratkan pesan kepada kita untuk tidak merasa paling benar untuk hal-hal yang sesungguhnya menjadi hak prerogatif Allah. Tentu beribadah dan meyakini kebenaran adalah hal yang utama. Tapi menjadi keliru tatkala sikap tersebut dihinggapi takabur dengan menghakimi pihak lain, apakah ia bahagia atau celaka di akhirat kelak. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Perbuatan dosa yang membuatmu menyesal jauh lebih baik ketimbang beribadah yang disertai rasa ujub.”

Tentang etika dakwah, Islam pun mengajarkan bahwa tugas seorang mubaligh sebatas menyampaikan, bukan mengislamkan apalagi menjanjikan kenikmatan surgawi.

Vonis terhadap orang ini-itu sebagai golongan kafir atau bukan, masuk neraka atau surga, sangat tidak dianjurkan karena melangkahi Rabb, penguasa seluruh ciptaan. Islam menekankan umatnya muhasabah atau koreksi diri sendiri daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk di hadapan Tuhan. (LiputanIslam.com)